Selasa, 10 Januari 2017

Psikologi

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berfikir, perilaku, dan penangkapan panca indera. Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi pesakit (dan keluarganya). Penyakit mental boleh mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, bangsa, agama, mahupun status sosial Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit mental, ada yang percaya bahawa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahawa itu akibat guna-guna, kerana kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan pesakit dan keluarganya kerana penghidap penyakit jiwa tidak mendapat rawatan secara cepat dan tepat.

B.     Rumusan Masalah
1.   Penyakit Mental
2.   Gangguan Kejiwaan
3.   Fakto Penyebab Gangguan Jiwa
4.   Ciri-Ciri  Penyakit Mental Yang Dialami Oleh Manusia
5.   Beberapa Cara Untuk Mengatasi Gangguan Mental
6.   Macam-macam penyakit mental


C.     Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa itu penyakit mental seseorang sehingga dapat membantu kita mengenal dan bisa mengatasi gangguan mental tersebut. 







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Penyakit Mental
Penyakit mental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berfikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress. Penyakit mental boleh mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, bangsa, agama, mahupun status sosial-ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahan peribadi.
Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit mental, ada yang percaya bahawa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahawa itu akibat guna-guna, kerana kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan pesakit dan keluarganya kerana penghidap penyakit jiwa tidak mendapat rawatan secara cepat dan tepat.

B.     Gangguan kejiwaan (Mental)
Gangguan mental atau penyakit mental adalah pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stress atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia. Gangguan yang berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerah otak atau sistem saraf yang menjalankan fungsi sosial manusia. Penemuan dan pengetahuan tentang kondisi kesehatan mental telah berubah sepanjang perubahan waktu dan perubahan budaya, dan saat ini masih terdapat perbedaan tentang definisi, penilaan dan klasifikasi, meskipun kriteria pedoman standar telah digunakan secara luas. Lebih dari sepertiga orang di sebagian besar negara-negara melaporkan masalah pada satu waktu pada hidup mereka yang memenuhi kriteria salah satu atau beberapa tipe umum dari kelainan mental. Penyebab gangguan mental bervariasi dan pada beberapa kasus tidak jelas, dan teori terkadang menemukan penemuan yang rancu pada suatu ruang lingkup lapangan. Layanan untk penyakit ini terpusat di Rumah Sakit Jiwa atau di masyarakat sosial, dan penilaian diberikan oleh psikiater, psikolog klinik, dan terkadang psikolog pekerja sukarela, menggunakan beberapa variasi metode tetapi sering bergantung pada observasi dan tanya jawab. Perawatan klinik disediakan oleh banyak profesi kesehatan mental. Psikoterapi dan pengobatan psikiatrik merupakan dua opsi pengobatan umum, seperti juga intervensi sosial,
Dukungan lingkungan, dan pertolongan diri. Pada beberapa kasus terjadi penahanan paksa atau pengobatan paksa dimana hukum membolehkan. Stigma atau diskriminasi dapat menambah beban dan kecacatan yang berasosiasi dengan kelainan mental (atau terdiagnosa kelainan mental atau dinilai memiliki kelainian mental), yang akan mengara ke berbagai gerakan sosial dalam rangka untuk meningkatkan pemahanan dan mencegah pengucilan sosial.
Pada umumnya, kelainan mental diklasifikasikan terpisah menjadi kelainan syaraf, ketidakmampuan belajar, atau kelainan mental. [1]

C.    Faktor Penyebab Penyakit Mental
Sampai saat ini belum diketahui penyebab (etiologi) yang pasti yang menyebabkan seseorang Menderita skizofrenia, Beberapa factor yang diduga menjadi penyebab sikozofrenia antara lain :
1.      Genetik  
Dari sebuah penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut :
·         Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%, saudara kandung 10,1%;  anak-anak 12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9%.
·         Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar identik 59,20%; sedangkan kembar fraternal 15,2%  Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi timbulnya skizofrenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, karena kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal. Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa meskipun ada gen yang abnormal, skizofrenia tidak akan muncul kecuali disertai faktor-faktor lainnya.

2.      Skizofrenia Muncul bila Terjadi Interaksi Antara Abnormal Gen dengan :
·         Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan otak janin;
·         Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan;
·         Komplikasi kandungan; dan
·         Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.   

3.      Penyebab Umum Penyakit  Mental Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-sosial.
Penyakit mental artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang berunsur psikis. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan, usia dan Jenis Kelamin, keadaan fisik, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar manusia, dan sebagainya.[2]


D.    Ciri-Ciri  Penyakit Mental Yang Dialami Oleh Manusia Menyalahkan orang lain.      
a.       Menyalahkan diri sendiri         
Menyalahkan diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Ini berbeda dengan mengakui kesalahan. Anda pernah mengalaminya? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong. "Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat, dan sebagainya, Lha, saya ini apa ?, wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha, saya SMP, wah nggak bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh". Penyakit ini seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental.

b.      Tidak punya goal atau cita-cita       
Kita sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas. Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Buat target jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. Ilustrasinya kayak gini: Ada anjing jago lari yang sombong. "Apa sih yang nggak bisa saya kejar, kuda aja kalah sama saya". Kemudian ada kelinci lompat-lompat, kiclik, kiclik, kiclik. Temannya bilang, “Nah tuh ada kelinci, kejar aja". Dia kejar itu kelinci, wesss...., kelinci lari lebih kencang, anjingnya ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai nggak dengar / peduli apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci masuk pagar. Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain. "Ah, lu, katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang". "Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk fun aja sih". Kalau "GOAL" kita hanya untuk "FUN", isi waktu aja, ya hasilnya cuma terengah-engah saja. 

c.       Mempunyai "goal", tapi ngawur mencapainya.  
Biasanya dialami oleh orang yang tidak "teachable". Goalnya salah, focus kita juga salah, jalannya juga salah, arahnya juga salah. Ilustrasinya kayak gini : ada pemuda yang terobsesi dengan emas, karena pengaruh tradisi yang mendewakan emas. Pemuda ini pergi ke pertokoan dan mengisi karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor pergi. Tentu saja ditangkap polisi dan ditanya. Jawabnya, "Pokoknya saya mau emas, saya nggak mau lihat kiri-kanan".

d.      Terlalu cepat menyerah      
Jangan berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali dengan yang salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat yang salah. Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di tempat yang salah repot sekali.
  
e.       Bayang-bayang masa lalu       
Kita selalu penuh memori kan? Apa yang kita lakukan, masuk memori kita, minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita berikutnya. Apalagi kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. Kegagalan sebagai akibat bayang-bayang masa lalu yang tidak terselesaikan dengan semestinya. Itu bayang-bayang negatif. Memori kita kadang- kadang sangat membatasi kita untuk maju ke depan. Kita kadang-kadang lupa bahwa hidup itu maju terus. "Waktu" itu maju kan?. Ada nggak yang punya jam yang jalannya terbalik? Nggak ada kan? Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke depan, kalaupun harus jatuh, pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori negatif yang menghalangi kesuksesan. [3]

E.     Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi gangguan mental
antara lain sebagai berikut:
a.       Berusaha memahami hakekat manusia yang mempunya pembawaan dan pengalaman yang berbeda-beda dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Termasuk memahami diri sendiri yang bisa dilakukan dengan intropeksi diri atau umpan balik.
b.      Konsultasi pada orang yang dianggap bisa memahami membantu mengatasi masalahnya.
c.       Mencurahan isi hatinya kepada orang lain yang dipercaya.
d.      Berfikir positif, dengan memandang segala sesuatu dari aspek positif/hikmahnya.
e.       Realistis yaitu dengan menerima kenyataan/fakta secara rasional.

1.         Ada beberapa cara untuk mengatasi stress, yaitu:
a.       Ubah lingkungan kerja dan lingkungan social.
b.      Pelajari emosi yang dilahirkan oleh persepsi dan opini Anda.
c.       Berusaha untuk rileks, tenang dalam menghadapi tugas maupun masalah.
d.      Pelihara fisik anda dengan gizi yang memadai dan berolahraga yang teratur.
e.       Penuhi kebutuhana rohani dengan berdoa, laksanakan ajaran dengan sebaik-baiknya sesuatu dengan keyakinan. 

2.          Gangguan mental dapat diobati secara informal dan formal      
 Pengobatan informal ini dapat berupa partisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan, dan didukung oleh filsafat atau ideologi tertentu mengenai bagaimana seseorang harus hidup. Contoh:
a.       Pengobatan informal Mengikuti latihan pengembangan diri, latihan yoga atau orhiba (olahraga hidup baru), mendalami ajaran agama, ikut dalam kelompok arisan yang disenangi, secara teratur mengikuti pengajian dan sebagainya.
b.      Pengobatan formal menyangkut segala bentuk terapi, perawatan medis atau lainnya yang dilakukan semata-mata untuk meringankan masalah-masalah mental. Kegiatan ini meliputi berbagai bentuk kegiatan psikoanalisis, terapi tingkahlaku, terapi umum atau konseling profesional lainnya.

F.           Macam-macam penyakit Mental
A.    DSM ( Diagnostic and statistical manual of mental disorder )
Untuk memahami perilaku abnormal, psikolog menggunakan acuan DSM (Diagnostic and statistical manual of mental disorder).  DSM adalah sistem klasifikasi gangguan-gangguan mental yang paling luas diterima.  DSM menggunakan kriteria diagnostic spesifik untuk mengelompokkan pola-pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri-ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi. Sistem DSM terdiri dari dari klasifikasi yang juga mempunyai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan utama. Penilaian perilaku abnormal dapat ditelaah menggunakan berbagai cara (metode) salah satunya metode dapat diukur melalui beberapa cara yang tetap memperhitungkan faktor-faktor budaya dan etnik yang juga penting untuk dilakukan. Metode-metode tetap meliputi wawancara klinis, tes psikologi. 

B.     NARKOBA
a.       LatarBelakangPenggunaanNarkoba
            Pada awalnya orang-orang yang mengkonsumsi narkoba ketika masih sekolah SMP, di SMP mereka mulai mencoba minum-minuman keras yang ditawari oleh teman-temannya yang ada di SMA. Ketika mereka sudah masuk SMA mereka mulai mencoba mengkonsumsi pil lexotan yang dosisnya ringan, kemudian mereka mencoba obat-obatan yang dosisnya tinggi.
            Orang-orang mengkonsumsi narkoba itu bertujuan untuk menenangkan diri dari masalah yang dihadapi olehnya. Misalnya anak yang selalu dimarahi oleh orang tuanya dan kurang perhatian (kasih sayang) dari kedua orang tuanya pasti merasa kesal dan marah maka, untuk menghilangkan rasa kesal dan marahnya mereka minum-minuman keras bahkan ada yang langsungmemakainarkoba. Apabila ditambah dengan pergaulan yang bebas, yaitu pergaulan yang tanpa aturan, sekehendak sendiri dan tidak mau diatur sangat dominan dalam proses penyalahgunaan narkoba ini.

b.      Dampak Yang Ditimbulkan Oleh Narkoba
        Narkoba bisa memabukkan karena seluruh saraf-saraf dalam tubuh tidak berfungsi layaknya orang normal sehingga orang yang mengkonsumsi narkoba seperti orang gila. Apabila terlalu sering menggunakan narkoba maka kita akan ketagihan karena mengakibatkan ketergantungan terhadap obat-obatan itu. Cara-cara apapun dilakukan oleh pemakai narkoba supaya bisa membeli narkoba dengan cara merampok mencuri dan sebagainya

C.    GANGGUAN SEKSUAL
Gangguan seksuak ada 2 macam, pertma gangguan fungsi seksual (seksual disfunction), dan ke 2 adalah kelainan seksual (seksual deviance).
Gangguan fungsi seksual adalah gangguan yang terjadi dalam tahap tertentu dari suklus seksual seseorang. Misalnya, timbul rasa ragu, takut, sakit atau takut sakit, atau merasa mual atau jijik sehingga orang yang bersangkutan tidak dapat melaksanakan fungsi seksual tertentu dengan sempurna. Contoh-contoh difungsi seksual adalah :
a.       Hypoactive sexsual desire disorder: Hasrat seksual menurun/kurang. Bisa karena faktor usia, trauma, atau stres. Bisa berlangsung sementara/situasional, bisa berlangsung lama dalam segala siuasi
b.      Sexsual aversion disorder: Rasa takut, jijik atau cemas yang sangat besar untuk berhubngan dengan lawan jenis. Orang tersebut bahkan bisa merasa panik jika harus berdekatan dengan lawan jenis. Dampaknya orang ini akan sulit mendapatkan pasangan hidup.
c.       Female sexual arousal disorder: Disebut juga frigit. Terjadi pada perempuan yang tidak terangsang ketika sedang berhubungan seks sehingga tidak menghasilkan cairan/lubrikasi yang cukup untuk membasahi vaginanya. Akibatnya, ketika terjadi sanggama terasa sakit dan selanjutnya perempuan itu menghindari hubungan seks dengan pasangannya.[4]












BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
         Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berfikir, perilaku, dan penangkapan panca indera. Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi pesakit (dan keluarganya). Penyakit mental boleh mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, bangsa, agama, mahupun status sosial Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit mental, ada yang percaya bahawa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, kerana kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan pesakit dan keluarganya kerana penghidap penyakit jiwa tidak mendapat rawatan secara cepat dan tepatyangdigunakan

B.     Saran
         Kami dari pemakalah  berharap semoga audiens menerima hasil persentase kami, apabila ada kekurangan kami mohon maaf sebebsar besarnya dan kami selalu menerima berbagai macam kritikan dari dosen mau pun mahasiswa , sekedar untuk memperbaiki diri untuk kedepan nya terima kasih.





DAFTAR PUSTAKA


H. Ahmadi, Abu. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Januari, 2005
Amiruddin, M. Hasbi, Pengantar Psikologi Umum. Banda Aceh: April,2005
Sarwono, Sarlito W. Pengantar Psiologi Umum. Jakarta: Januari, 2012 Hal: 241
www. id.wikipedia.org/wiki/Gangguan_mental
www.wedaran.com/18711/gejala-gangguan-mental-dan-tanda-tandanya



[1] Sarwono, Sarlito W. Pengantar Psiologi Umum. Jakarta: Januari, 2012 Hal: 241
[2]  Http://id.wikipedia.org/wiki/Gangguan_mental
[3] Amiruddin,M.Hasbi, Pengantar Psikologi Umum. Banda Aceh: April,2005, Hal: 115

[4] Sarwono, Sarlito W. Pengantar Psiologi Umum. Jakarta: Januari, 2012 Hal: 270

Tidak ada komentar:

Posting Komentar